Fetching data...

Sunday, 20 December 2020

Allah Tidak Perlu Dibela (?)


Allah sudah atur dan tegaskan; munafik ya munafik, menyeleweng dari yang terang dalam syari'at dan aqidah ya sesat, bukan Muslim ya kafir. 

Allah juga perintahkan agar tidak mengejek kepercayaan dan agama yang lain. Allah perintahkan untuk saling kasih mengasihi sesama manusia, tolong menolong dalam kebaikan, saling harga menghargai, bersikap toleran, menjaga solidaritas dan menghormati harkat dan martabat sesama manusia. 

Intinya soal urusan manusia kepada manusia, sudah Allah atur dengan sangat indah dan megah, termasuk urusan manusia dengan Tuhannya, yang di antaranya adalah bagaimana seorang muslim beragama dan menjaga akidahnya.

Tetapi kok berani-beraninya ada yang menganulir keputusan Allah itu? Mereka tidak tegas memosisikan munafik ya munafik, sesat ya sesat, kafir ya kafir. Bukankah itu nyerobot hak Allah? Ikut campur urusan Allah? Tetapi ketika ada sesama muslim yang marah terhadap penghinaan pada Allah, tiba-tiba mereka yang tadi berteriak: "Allah tidak perlu dibela!". Apakah hak Allah boleh diserobot tapi Allah tidak perlu dibela? Boleh ikut campur urusan Allah tetapi tidak boleh cemburu saat ada yang menghina-Nya? Kayaknya beragama tidak selucu dan sepengecut itu.

Allah memang tidak butuh dibela dan tidak butuh ditolong. Toh DIA tetap Maha Kuasa walau sejuta manusia mengingkari-Nya. DIA tetap  Ilah, tetap Rabb dan tetap Allah meski seisi bumi mengobok-obok aturan-Nya. Bukan karena DIA lemah sehingga kita membela-Nya, toh mau kita bela ataupun tidak, tidak ada pengaruhnya untuk-Nya. Allah itu Maha Kuat. 

Bukan DIA,  tapi kita lah yang butuh membela-Nya dan membela agama-nya, menolong-Nya dan menolong agama-nya. Supaya kita mendapatkan kemuliaan dari-Nya, mendapat ridha-Nya, diteguhkan kedudukan kita dan diberikan jalan keluar.

Yaa ayyuhalladzina aamanu intanshurullah yanshurkum wa yutsabbit aqdaamakum.

Lagi pula orang beriman itukan asyaddu hubbal lillah, benar2 cinta pada Allah,  dan bukankah cinta itu menggerakkan? Bukankah cinta itu lah mengapa ada cemburu? Pantaskah kita berkata beriman sementara tidak tergerak kepada Allah? Pantaskah kita mengaku hamba tapi tidak cemburu untuk menolong-Nya?

Atau jangan-jangan lebih penting membela harakah, organisasi, budaya, kelompok, tokoh, patron, tradisi dan lain sebagainya ketimbang Allah? Kesemuanya itu menjadi "berhala" saat mereka juga mengaku menyembah Allah.

Na'uzubillah min dzalik!

Saturday, 19 December 2020

Kuat dan Amanah


Satu ketika Ibnu Taimiyah berkunjung ke wilayah kekuasaan Gubernur Qais al-Manshuri di Ghuzzah. Dalam kunjungannya itu, Ibnu Taimiyah  diminta oleh gubernur Qais al-Manshuri untuk memberikan nasihat terkait bagaimana seharusnya seorang pemimpin mengurusi rakyatnya. Ibnu Taimiyah kemudian menuliskan nasihat-nasihatnya dengan judul "as-Siyasah asy-Syar'iyyah fil lshlahir Ra'i war Ra'iyyah" atau yang hari ini familiar kita kenal dengan kitab As-Siyasah Asy-Syar'iyyah (Fikih Politik).

Dari sekian nasihat yang ditulisnya hanya dalam semalam untuk gubernur Qais, ada satu nasihat yang cukup menarik. Ibnu Taimiyah mengatakan, bahwa seorang pemimpin atau orang yang diberikan tanggungjawab memegang suatu jabatan, sebaiknya adalah orang yang kuat (memiliki kemampuan) dan amanah.

Namun jika tidak ada orang yang memiliki dua syarat tadi (kuat dan amanah) sekaligus, melainkan hanya cenderung pada salah satu dari dua syarat tadi, maka hendaknya yang dipilih adalah dia yang kuat (memiliki kemampuan). Sebab jika hanya amanah atau hanya shalih, baik budi pekertinya, jujur, 'alim, namun tidak kuat, tidak punya kemampuan memimpin, dia tidak akan sanggup memberikan kemaslahatan yang luas kepada rakyat kecuali hanya untuk dirinya sendiri. Orang seperti ini ketika terpaksa harus memimpin, maka dia hanya punya wujud tapi tidak hadir dalam menyelesaikan setiap masalah rakyatnya, sehingga dia tidak eksis dalam hati dan pikiran rakyatnya.

Sedangkan orang yang kuat  adalah dia yang mengerti tentang tugas dan fungsinya serta sanggup menjalankannya, sehingga mendatangkan maslahat untuk rakyatnya, sebab dia punya kemampuan memimpin.

Kemampuan memimpin itu tentu karena dia telah ditempa sehingga memiliki pribadi dan karakter yang kuat, selain itu dia juga memahami betul rakyat dan wilayah kekuasaannya, sehingga dia punya konsepsi tentang rakyatnya. Dia tahu bagaimana menahkodai bahtera kekuasaannya agar rakyatnya selamat.

Dia tidak takut sendirian dan berbeda demi rakyatnya, sebab dia sadar bahwa keterasingan adalah biasa dalam perjuangan kebenaran. Dia berani bersikap, punya pendirian dan pilihan, yang kesemua itu dipegangnya dengan kokoh.

Dia tidak sibuk bangun koalisi tapi lupa memberi solusi, apalagi membangun dinasti untuk memperkaya diri dan keluarganya sendiri. Dia juga tidak sibuk mengumpulkan "ghanimah" untuk masa setelah pensiunnya.

Dia tidak menjadikan "merakyat" sebagai kedok untuk menutupi keculasannya, termasuk citra "sederhana" untuk mengelabui rakyat dari ketamakannya.

Dia tidak sibuk menyalahkan untuk mengelak dari ketidak becusannya, atau mengobarkan isu lain untuk memalingkan perhatian rakyat dari kebobrokannya.

Dia tidak menjawab kritik dengan membungkam, atau menuntut orang lain memberi solusi dari pada menyangsikan kebijakan, padahal dia lah pemimpin yang dahulu mengumbar janji. Dia juga tidak berceramah tentang lebih baik menyalakan lilin dari pada mengutuk kegelapan, lalu melarang rakyat bertanya mengapa dia menyeret mereka dalam gelap gulita.

Dia tidak berteriak tentang persatuan padahal dia justeru memicu dan menumbuh suburkan keterbelahan. Dia tidak menjadi bagian dari kubu, tapi dia hadir mendamaikan kubu-kubu.

Dia tidak membuat kezalimannya tampak benar dengan menciptakan berbagai aturan untuk melegitimasinya. Aturan-aturan itu sendiri didorongnya agar mengangkat harkat dan martabat bangsa dan negaranya, bukan untuk memuaskan syahwat diri dan kroni-kroninya, serta asing dan aseng.

Dia tidak berdalih sibuk bekerja lalu irit bicara, kemudian membiarkan rakyat riuh dalam spekulasi dan maki. Dia hadir dalam kehidupan rakyatnya, dia tidak hanya hebat dalam bekerja, dia juga mampu berbicara untuk membangun rasa percaya diri rakyatnya, memberikan semangat rakyatnya, mendamaikan rakyatnya dan membangun rasa optimis dalam diri rakyatnya... Serta yang terpenting: antara hati, pikiran, ucapan, permasalahan rakyat dan kebijakannya tidak saling berseteru!

....

Di usianya yang jauh dari kata muda ini, Indonesia masih saja terus menunggu sosok yang kuat lagi amanah itu. Semoga kelak Indonesia punya pemimpin yg kuat dan amanah, atau minimal kuat (punya kemampuan) saja.  Karena dengan begitu barulah janji-janji kemerdekaan akan segera dituntaskan. Agar sila-sila dalam Pancasila tidak menjadi sila paling sial, sebab hanya sekedar kumpulan kata-kata yang jauh dari fakta.

Semoga!

Sunday, 10 January 2016

Mengalah Karena Jama'ah

Berorganisasi atau berjama'ah untuk mencapai cita-cita kebaikan, akan menuntut kita untuk mengubur dalam-dalam sikap "aku", lalu kemudian menumbuh suburkan kesatuan jama'ah. Jangan tanya mengapa, karena begitulah hukum alam yang berlaku dalam jama'ah.

Kalau kita menyalahinmya, berarti kita telah mencoba melawan hukum alam. Jika sudah berani melakukan hal itu, maka tunggu saja, pada akhirnya kita akan menjadi pemberontak atau malah akan tersingkirkan dengan sendirinya.

Kita berjama'ah karena kita ingin bersama-sama untuk membuat suatu pertimbangan, mengambil suatu keputusan dan memperjuangkan suatu kepentingan. Itulah ikrar yang secara tersurat atau pun tersirat kita ucapkan ketika memilih untuk berjama'ah. Suka tidak suka, siap tidak siap, tetap itu harus kita terima dan kita jalankan. Itulah pilihan, itulah komitment yang harus teguh kita pegang dan pertanggung jawabkan.

Sebagai bagian dari jama'ah, tentu kita sebagai orang yang hendak totalitas dan bersikap loyal kepada jama'ah ingin selalu berbuat dan berkontribusi lebih serta yang terbaik bagi jama'ah. Kita ingin pikiran-pikiran dan pendapat yang kita hasilkan dari proses renungan bahkan hitungan-hitungan serta pembacaan yang cermat atas suatu hal, dapat diterima dan menjadi rujukan bahkan motivasi gerak bagi jama'ah. Terlebih kita sebagai manusia dengan fitrahnya yang khas; ingin didengarkan, ingin dihargai dan ingin dianggap ada dalam suatu kehidupan sosial, termasuk dalam sebuah jama'ah.

Apalagi misalnya, kita adalah manusia yang Allah karunia rasa percaya diri diatas rata-rata serta kecerdasan yang bisa diandalkan, sehingga dalam musyawarah-musyawarah jama'ah, kita tampil paling vokal dan antusias membahas suatu hal, seolah kita lah yang paling pantas didengar karena pendapat-pendapat kitalah yang paling baik. Nyaris kita menjadi penguasa dalam forum. Bukan apa-apa, tetapi memang tidak hanya berbekal percaya diri saja kita tampil dalam forum, namun pikiran-pikiran hasil renungan, hitung-hitungan serta pembacaan yang cermat atas suatu masalah telah kita simpan baik-baik dalam memori untuk dikemukakan dalam forum musyawarah jama'ah. Tetapi akhirnya, tidak jarang keputusan jama'ah tidak sejalan dengan pikiran dan pendapat kita. Karena ternyata ada banyak kepala dalam forum musyawarah jama'ah itu, dan kita hanyalah satu dari sekian kepala yang ada. Lebih-lebih keputusan akhir adalah keputusan jama'ah, keputusan bersama. Bukan keputusan yang diambil oleh individu.

Tentu ketika keputusan jama'ah terbalik seratus depan puluh derajat dengan pendapat kita, tanpa kita sadari terkadang rasa kecewa bahkan marah muncul pada diri kita. Betapa tidak, dengan berbagai argumen kita gunakan untuk meyakinkan jama'ah bahwa pendapat kita layak digunakan, ternyata mentah begitu saja ketika keputusan harus diambil oleh jama'ah. Syukur jika kualitas iman kita baik, stok sabar kita banyak atau kita cukup bisa diandalkan dalam persoalan ikhlas dan berbesar hati menerima segala keputusan betapapun berat serta pahitnya. Namun yang menjadi persoalan adalah ketika kondisi iman kita yang lebih sering turun daripada naik, stok sabar yang sangat minim serta persoalan ikhlas yang menjadi problem yang kita sendiri susah mengendalikan, terlebih hati yang teramat lemah untuk menerima keputusan-keputusan yang berseberangan dengan alur pikiran yang kita bangun. Dengan kondisi iman dan mental yang selemah itu, akan mudah sekali membuat kita marah dan kecewa pada jama'ah, akhirnya dengan tergesa-gesa kita menghakimi jama'ah kita sendiri. Menuduh jama'ah telah salah berbuat dan menuduh telah tidak menghiraukan kita, bahkan pada klimaksnya dengan emosional kita memutuskan, bahwa jama'ah ini sudah tidak layak dipertahankan. Sebegitu lemahnya kita sebagai bagian dari jama'ah. Nauzubillah

Berjama'ah sejatinya mengajarkan kita untuk sabar dan berbesar hati atas segala keputusan yang dibuat untuk kebaikan jama'ah dan kelancaran mewujudkan cita-cita jama'ah, maka sudah semestinya kualitas sabar dan hati kita akan semakin kuat seiring lamanya kita berjama'ah. Sehingga ketika pada perjalannya justru sabar kita perlu dipertanyakan dan hati kita harus digugat karena terlalu lemah dalam menerima keputusan jama'ah, maka disaat itu juga kita wajib introspeksi diri, apa yang telah kita buat dalam jama'ah? sudah sungguh-sungguhkah kita dalam berjama'ah? dan untuk apa dan kepada siapa tujuan kita berjama'ah?. Tidak mungkin dengan berjama'ah justeru membuat kita sedemikian rapuh seperti itu.

Bersabarlah, karena tidak mungkin keputusan yang diambil oleh jama'ah adalah untuk suatu keburukan. Kebaikan pulalah yang menjadi motivasi dan tujuan dari diambilnya keputusan itu. Kita tidak boleh merasa paling benar sendiri, sebab ingat bahwa kita adalah hanya satu orang diantara sekian orang dalam jama'ah. Keputusan itu -betapapun berat kita terima karena tidak sejalan dengan pikiran kita- adalah merupakan hasil pikiran dan pertimbangan banyak orang. Bukan keputusan subjektif seseorang semata, maka belajarlah untuk sabar menerima. Walaupun kemudian, di hari-hari yang akan datang terbukti bahwa ternyata keputusan jama'ah adalah salah dan pendapat kita dahulu adalah yang benar, maka jangan marah, bersabarlah. Karena disana kualitas kita sebagai seorang yang beriman sedang diuji, kualitas kita sebagai seorang prajurit sedang diukur. Biarkan saja semua menyadari kesalahan atas keputusan yang sudah diambil dahulu dan menjadikannya pelajaran, bukankah pelajaran yang amat berharga itu tidak mungkin diterima andai saja pendapat kita dahulu yang digunakan?. Maka mengalahlah karena jama'ah, sebab dengan begitu kita baru akan layak disebut seorang prajurit sejati. Karena kepatuhan kita kepada jama'ah adalah ukuran kualitas kita sebagai seorang prajurut!

Tuesday, 5 January 2016

Gairah Cinta dan Kelesuan Ukhuwah

Tak ada yang pernah menduga dia akan berada di jalan dakwah, sama seperti tidak menduganya dia bahwa dakwah ternyata demikian berat... karena ternyata memang begitulah seharusnya, jika dakwah adalah perkara ringan, maka tentu tidak perlu ada perjuangan dan pengorbanan. Banyak hal yang rupanya harus kita korbankan di jalan dakwah, karena memang begitu seharusnya. Dan karena dakwah tidaklah ringan, kita akan senantiasa diuji dan diasah hingga kita benar-benar layak untuk memikulnya... sayangnya, banyak justru yang gugur ketika diuji dan diasah pribadi dan imanya. Padahal dakwah itulah energi yang akan membuat kita kuat menjalani persidangan di alam kubur dan akan menjadi pemberat timbangan kebaikan di akhirat nanti.

Berikut ini tulisan (Alm) Ustadz Rahmat Abdullah, yang sangat menyentuh, berjudul "Gairah Cinta dan Kelesuan Ukhuwah". Semoga menjadi penambah semangat dan motivasi dakwah kita, selamat membaca.

***
Setiap kita akan senantiasa diuji oleh Allah SWT pada titik-titik kelemahan kita.

Orang yang lemah dalam urusan uang namun kuat terhadap fitnah jabatan dan wanita, tidak akan pernah diuji dengan wanita atau jabatan.

Tetapi orang yang lemah dalam urusan wanita namun kuat dalam urusan uang, tidak akan pernah diuji dengan masalah keuangan.

Orang yang mudah tersinggung dan gampang marah akan senantiasa dipertemukan oleh Allah dengan orang yang akan membuatnya tersinggung dan marah sampai ia bisa memperbaiki titik kelemahannya itu sehingga menjadi tidak mudah tersinggung dan tidak pemarah.

Orang yang selalu berlambat-lambat menghadiri pertemuan forum dakwah karena alasan istri, anak, mertua, atau tamu akan senantiasa dipertemukan dengan perkara ‘mertua datang, tamu datang silih berganti’ di saat ia akan berangkat.. terus begitu sampai ia memilih prioritas bagi aktivitasnya apakah kepada dakwah atau kepada perkara-perkara lain.

Kita semua harus memahami dan mengatasi segala kelemahan diri di jalan dakwah ini. Ingatlah, mushaf Al-Quran tidak akan pernah terbang sendiri kemudian datang dan memukuli orang-orang yang bermaksiat.

Sungguh teramat merugi... mereka yang mengikuti hawa nafsu kemudian pergi meninggalkan kebersamaan dalam dakwah ilallah, tanpa mau bersabar sebentar dalam ujian keimanan. Tanpa mau mencoba bertahan sebentar dalam dekapan ukhuwah..​

Dan sungguh, Kecewa itu biasa dan manusiawi yang luar biasa, siapa saja yang mampu beristighfar dan lalu berlapang dada serta bertawakkal pada-Nya.​ ​

Memang...​ ​ Dakwah ini berat... karenanya ia hanya mampu dipikul oleh mereka yang:

1. Memiliki hati sekuat baja.

2. Memiliki kesabaran lebih panjang dari usianya.

3. Memiliki kekuatan yang berlipat.

4. Memiliki keihklasan dalam beramal yang meninggi.

5. Memiliki ketabahan seluas lautan, memiliki keyakinan sekokoh pegunungan.​
​
Siapapun tak akan pernah bisa bertahan... melalui jalan dakwah ini... mengarungi jalan perjuangan... kecuali dengan KESABARAN!!!​

Karenanya...​ Tetaplah disini... di jalan ini... bersama kafilah dakwah ini. Seberat apapun perjalanan yang harus ditempuh... Sebesar apapun pengorbanan untuk menebusnya... tetaplah di sini...

Buanglah hawa nafsu dalam mengarungi perjalanannya, karena telah banyak yang berguguran karenanya.

Gandenglah selalu iman ke mana saja kita melangkah, karena iman akan menjagamu setiap waktu.​ Seburuk apapun, sekeruh apapun kondisi kapal layar kita, jangan lah sekali-kali mencoba untuk keluar dari kapal layar ini dan memutuskan berenang seorang diri... karena pasti kau akan kelelahan dan memutuskan menghentikan langkah yang pada akhirnya tenggelam di samudera kehidupan...​

Jika bersama dakwah saja... kau serapuh itu... Bagaimana mungkin dengan seorang diri?? Sekuat apa kau jika seorang diri...?
***

Saturday, 12 September 2015

Menghabiskan Sisa Hidup


Malam ini saya berhasil menonton sebuah film hingga tuntas, suatu perbuatan yang sangat jarang sekali saya lakukan. Entahlah, saya juga heran... disaat orang lain sudah menamatkan menonton banyak film, saya bahkan satu film saja belum tentu dapat saya tamatkan walau dalam waktu satu bulan.

Kesempurnaan Islam

Makna Syumuliyatul Islam

Hidup ini adalah sebuah sandiwara yang kaya akan masalah, dari yang kecil hingga yang terkecil dan dari yang besar hingga yang terbesar. Dewasa ini masalah hidup manusia semakin kompleks, zaman berganti dan terjadi banyak perubahan pada fisik bumi, menjadikan kebutuhan serta masalah manusia pun kian banyak dan semakin rumit saja. Banyak yang menyangsikan kemampuan agama dalam menjawab tantangan ini, sehingga tidak sedikit yang memilih menjadikan agama hanya sebagai “pajangan” semata atau menjadikan agama hanya sekedar simbol belaka. Bahkan ada yang sampai menganggap agama tidak ada sama sekali. Agama akhirnya kembali mendapat ancaman serius, perputaran waktu tidak bisa dibendung dan efek dari perputaran waktu itu menjadikan jutaan -atau entah berapa lah jumlahnya- masalah tumbuh dengan canggihnya yang kemudian menjadi momok bagi semua agama, terlebih kepada agama “abal-abal”. Disini Islam tampil sebagai agama paripurna yang siap menjawab semua persoalan yang ada.

Syumuliyatul Islam secara sederhana dapat kita artikan sebagai keintegralan, kesempurnaan, keuniversalan Islam. Maksudnya adalah bahwa Islam adalah agama yang sempurna dan menyeluruh, Islam mengajarkan segala hal, Islam mengatur segala persolan, serta Islam memiliki jawaban atas semua yang membutuhkan pemecahan masalah. Hal ini telah tertuang dalam QS. Al-Maidah ayat 3, yang merupakan ayat terakhir yang turun kepada Nabi Muhammad SAW. Islam adalah agama yang sempurna, mencakup seluruh aspek kehidupan manusia.

Aspek-Aspek Kesempurnaan Islam

            Islam sangat komplit dalam mengatur hidup dan kehidupan manusia. Hal ini sebagaimana yang disebut dengan; hablum minallah, hablum minannas dan hablum minal ‘alam. Hablum minallah artinya Islam mengatur tentang bagaimana hubungan atau interkasi manusia dengan Tuhannya, bagaimana menyembahnya serta bagaimana menjadi hamba yang taat dihadapan-Nya. Islam sangat mengatur bagaimana etika seorang hamba terhadap Tuhannya, bagaimana ber-Tuhan, bagaimana cara mentaati perintahnya serta bagaimana menjauhi larangannya, semua dibahas dan diatur dengan sangat rinci dalam Islam pada aspek hamlum minaAllah.

Hablum minannas artinya Islam mengatur bagaimana cara manusia berhubungan sosial dengan manusia yang lainnya. Hidup tidaklah sekedar hidup dan berinteraksi sesuka hati dan sebebas-bebasnya dengan manusia lainnya, ada rambu-rambu dan aturan main yang harus diperhatikan oleh setiap manusia. Hal ini agar tidak terjadi kesemrautan dan ketidak seimbangan dalam hidup. Islam memiliki aturan yang sangat canggih dan rapih tentang bagaimana manusia seharusnya melakukan kehidupan sosial. Aturan ini adalah berdasarkan firman Tuhan dan juga teladadan manusia agung; Nabi Muhammad SAW. Ada banyak sekali aspek dalam kehidupan bersosial manusia yang satu dengan manusia yang lainnya, yaitu dari masalah ekonomi, kemasyarakatan, politik, pendidikan, budaya, tekhnologi serta berderet aspek-aspek lainnya. Yang kesemuanya aspek ini sangatlah dinamis, selalu berubah dan berkembang seiring perkembangan zaman dan juga perubahan tempat.

            Hablum minal ‘alam artinya bahwa Islam mengatur dengan sangat rapih dan detail terkait bagaimana hubungan manusia dengan alam; tumbuhan, tanah, air, udara dan semua yang berkaitan dengan itu. Di dalam ilmu hukum islam kita mengenal cabang ilmu fikih, yaitu fiqhul bi’ah. Yaitu ilmu fikih yang fokus membahas tentang bagaimana hubungan manusia dengan alam, sebaimana fikih ibadah untuk hubungan manusia dengan Tuhan serta fikih mu’amalah untuk hubungan manusia dengan sesama manusia lainnya. dari masalah tanah hingga udara bahkan astronomi, tidak luput dari pembahasan Islam. Mulai dari masalah tanah, air, api bahkan udara, semua diatur dalam Islam islam tentang bagaimana mengelolah, memanfaatkan, menjada serta pemeliharaannya. Islam punya aturan yang sangat gamblang tentang bagaimana seharusnya manusia bersikap terhadap alam raya ciptaan Allah azza wa jalla ini.

            Semua aspek dibahas dan diatur dalam Islam, sebab sekali lagi bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang paling benar dan paling sempurna. Syaid Imam Hasan Albanna pernah memberikan komentar tentang kesempurnaan Islam dengan sangat baik. Belia berkomentar; "Bahwa syumuliyatul islam berarti kesempurnaan islam yang mencakup kesemuanya secara menyeluruh. Ajaran ini mencakup seluruh dimensi kehidupan manusia dari pribadi, keluarga, masyarakat hingga negara ;dari sosial, ekonomi, politik, hukum, keamanan, lingkungan, pendidikan hingga kebudayaan. Seluruh etnis manusia dari sistem hingga akhlak, dari manusia pertama hingga manusia terakhir, dari sejak kita bangun tidur hingga kita tidur kembali, dari kehidupan dunia hingga kehidupan akhirat. Cakupan islam dapat kita beri makna meliputi melingkupi dimensi waktu, dimensi sistem dan dimensi dimensi tempat." Tidak ada satu aspek pun yang luput dari pembahasan dan aturan-aturan dalam Islam.

Islam Sebagai Jawaban Segala Masalah

            Seperti yang telah saya paparkan diawal, bahwa seiring perkembangan zaman, kebutuhan hidup manusia semakin kompleks. Hal ini tentu melahirkan banyak persoalan-persoalan yang butuh pemecahannya. Islam tampil dengan gagah menjadi agama paripurna yang terbukti siap dan mampu menjawab tantangan zaman, mulai dari urusan manusia dengan pencipta hingga hubungan manusia dengan ciptaan lainnya. Namun tidak sedikit yang putus asa lalu dengan sinis menuduh Islam sebagai agama kolot yang sama sekali tak punya nyali apalagi kekuatan untuk menyelesaikan semua masalah hidup.

            Seorang ulama’ dengan sangat indahnya beliau berucap; “Al Islaamu layyat ba’azzaman, walaa yafuutuhuzzaman, walaa kinnal islaama yuro’i taqoddumaz zaman”. Perkataan ulama’ ini sangatlah benar adanya, bahwa Islam memang tidak mengekor pada pergantian zaman, sebab bukan zaman yang kemudian mempengaruhi atau menjadi penyetir Islam. Sehingga Islam memang tidak munngkin ketinggalan zaman, sebab Islam tidak berjalan dibelakang, tetap Islam bahkan telah melampaui zaman itu sendiri. Islam senantasa memperbaiki zaman, sederas apapun perkembangannya Islam adalah agama yang senantiasa menjadi “dokter” bagi zaman kita dia mulai tak sehat lagi dalam perputaranya.

            Hal ini bukan bualan belaka, telah sangat banyak bukti yang cukup dengan mata telanjang kita sudah mampu melihat, mendengar serta merasakan bagaimana Islam sebagai agama yang paripurna tampil menjadi sebuah “pahlawan” untuk mengatur dan memberikan petunjuk dengan sangat, rapih, gamblang, dan sangat rasional tentang bagaimana seharusnya menyelenggarakan hidup dan kehidupan ini. Namun sayang, masih saja ada orang yang meragukan dan memberikan sikap sinis terhadap Islam, yang celakanya tidak sedikit orang Islam yang justru berada pada pihak ini. Sehingga dewasa ini sangat menjamur mereka yang katanya cendikiawan muslim, sarjana muslim dan para akademis justru mengkritik Islam, meragukan aturan-aturannya serta tidak lagi menghiraukan etika hamba kepada Tuhannya. Aturan Islam yang sangat prinsipil dan fundamentalpun oleh mereka “diusuli” dengan teori-teori kolot nan miskin mutu dari otak-otak mereka. Al-Qur’an dan hadis yang merupakan sumber hukum utama dalam Islam, dikritiki mereka dan mereka mencoba menafsirlan sesuka perut mereka.

            Percaya bahwa Islam mengatur semua aspek adalah bentuk daripada keimanan kita. Mempercayainya adalah sesuatu yang sangat wajib, bahkan percaya tidak percaya, Islam dengan sendirinya telah membuktikan itu.

Wallahu a’lam bis shawab
           




Syahadatain

Makna Syahadatain

Hal pertama yang terpenting dalam Islam adalah pengakuan, kesaksian dan sikap membenarkann apa yang menjadi hal paling ushul dalam agama Islam. Karena itulah wujud paling awal dari keimanan seseorang. Di dalam dua pengakuan paling dasar dan utama adalah bahwa mengakui tidak ada yang pantas disembah selain hanya Allah serta dengan sepenuh hati kita mengakui dan membenarkan bahwa Muhammad bin Abdullah adalah utusan Allah. Inilah yang disebut dengan Syahadatain atau dua kalimat syahadat. Kalimat ini menjadi bukti paling awal dari keimanan seorang muslim, bahwa dia mengakui dalam hati, kemudian diucapkannya dengan lisan dan diwujudkan dalam perbuatan keseharian.

Ada hal penting yanng dapat kita pahami dari dua kalimat syahadat ini, kalimatnya pendek namun memiliki arti yang sangat luas, lugas dan tegas. “Asyhadu anlaa ilaaha illallah, wa asyhadu anna muhammadan rhasuulullah”. Inilah kalimat yang menjadi gerbang pertama bagi siapapun yang hendak masuk ke dalam agama yang benar; Islam. Persaksian bahwa tidak ada yang berhak disembah dan menerima ibadah kecuali Allah Azza wa jalla. Ini juga menjadi suatu keniscayaan untuk meniadakan sikap bergantung, cenderung, berharap dan sikap tunduk pada apapun selain hanya kepada Allah semata. Ini adalah wujud penyerahan diri yang sesungguh-sungguhnya pada Allah dan menjadikan Allah sebagai alasan dari semua aktivitas dalam kehidupan ini serta menjadikan-Nya sebagai tujuan akhir dari perjalanan hidup di dunia. Ada dua rukun yang terkandung di dalam syahadat yang pertama ini, yaitu An-Nafyu atau peniadaan dan Al-Isbat (penetapan). Kalimat "Laa ilaha" membatalkan/meniadakan syirik dengan segala bentuknya dan mewajibkan kekafiran terhadap segala apa yang disembah selain Allah. Kalimat  "illallah" juga menetapkan bahwa tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah dan mewajibkan pengamalan sesuai dengan konsekuensinya.  Makna dua rukun ini disebut oleh Allah dalam firman-Nya yang agung dakam QS. Al-Baqarah:256; "Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada thaghut dan beri-man kepada Allah, makasesungguhnya ia telah berpegang kepa-da buhul tali yang amat kuat...”.  kalimat "siapa yang ingkar kepada thaghut" adalah makna dari rukun “Laa ilaaha illallah” yang pertama. Sedangkan kalimat "dan beriman kepada Allah" adalah merupakan makna dari rukun yang kedua.  Hal ini senada pula dengan firman Allah lainnya dalam QS. Az-Zukhruf ayat 26-27; “Sesungguhnya aku berlepas diri terhadap apa yang kamu sembah, tetapi (aku menyembah) Tuhan yang menjadikanku ...". Kalimat "Sesungguhnya aku berlepas diri" ini adalah makna peniadaan. Sedangkan kalimat "Tetapi (aku menyembah) Tuhan yang menjadikanku” adalah makna penetapan dari rukun yang kedua. 

Persaksian bahwa Muhammad bin Abdullah, putra suku quraisy. Merupakan penyampai risalah dari Allah, seorang utusan Allah yang membawa firman-firman Allah dalam agama yang agung agar menjadi rahmat bagi seluruh alam. Bersaksi atas kerasulan Muhammad berarti kita dengan sungguh-sungguh membenarkan apa yang diucapkannya dan apa yang diajarkannya. Kita mengakui bahwa segala ucapannya, perbuatannya dan ketetapannya menjadi salah satu sumber hukum dalam agama Islam. Sehingga dengan begitu, kita mengakui dengan sepenuh hati serta keimanan yang mendalam bahwa al-Qur’an adalah merupakan firman Allah azza wa jalla yang diisampaikan melalui perantaraan malaikat jibril kepada Muhammad untuk kemudian disampaikan kepada semua alam, serta semua perkataan Nabi, perbuatannya serta ketetapannya tidak lain tercipta atas bimbingan langsung dari Allah.

Mengakui bahwa Allah adalah Tuhan dan Muhammad adalah Nabi dan Rasul Allah yang paling akhir, adalah merupakan hal paling mendasar yang harus diakui terlebih dahulu oleh setiap muslim, sebelum akhirnya manifestasi dari pengakuan itu akan terwujud dalam hidup kita, yaitu bagaimana kita hidup dan untuk apa kita hidup.

Urgensi Syahadatain

            Ibarat pohon, maka hal yang paling vital dari sebuah pohon adalah akar, bukan daun, ranting, batang, kulit atau yang lainnya. Sehijau apapun daunnya, sekeras apapun kulitnya, sebanyak apapun rantingnya serta sebesar apapun batang dari sebuah pohon, jika akarnya tidak kuat pasti pohon itu akan tumbang dengan sendirinya. Berbeda halnya  jika akarnya kuat dan kokoh menghujam ke dalam bumi, walau daun pohon itu sudah berguguran, rantingnya kering, kulitnya tak lagi sekeras pada awalnya serta batang yang tak lagi segar seperti semulanya, pohon itu tidak akan pernah tumbang walau diterpa angin setiap harinya. Akar memainkan peran yang sangat penting sekali untuk keberlangsungan hidup serta kokohnya sebuah pohon.

           Syahadatain dapat kita ibaratkan akar dari sebuah pohon sebagaimana yang telah digambarkan diatas. Semua bermula dari akar itu dan pada akhirnya berakhir pun pada akar itu tadi. Maka sangat penting bagi setiap orang untuk bersyahadat, membenarkan syahadatnya serta menjaganya. Hal paling mendasar ini pula yang harus benar-benar diyakini oleh setiap muslim sebagai bentuk pemasangan pondasi awal dalam merancang hidup yang lebih baik, yang orientasinya adalah akhirat. Gagal dalam membangun syahadat, maka akan rusak semua amalan dalam kehidupan setiap manusia. Tanpa syahadat semua hanya nihil belaka dan tidak memiliki ruh apa-apa. Syahadatlah yang akhirnya membuat semua menjadi bernilai ibadah, menjadikan semua berjalan pada rel yang semestinya dan pada akhirnya menjadi sebab diridhoinya hidup seseorang. Rusaknya syahadat adalah petaka bagi hidup seseorang, baik tidaknya hidup seseorang tergantung baik tidaknya syahadatnya.

       Konsekuensi dari syahadat adalah bahwa kita harus tunduk dan patuh pada perintah dan larangan dalam agama. Sehingga kita faham bahwa kita hidup adalah karna kita memang sengaja Allah ciptakan untuk kita beribadah dan menyembah kepada Allah, kita akhirnya sadar bahwa hidup tidaklah bebas sebebas-bebasnya, hidup punya aturan dan cara mainnya sendiri. Ada aturan yang harus kita patuhi, ada rambu yang menjadi petunjuk kita dalam hidup, sehingga kita benar-benar hidup dengan cara yang benar, serta kita tahu apa hakikat hidup ini.


Realisasi Syahadatain dalam Gerakan

            Syahadat adalah kunci dari setiap amal perbuatan kita, syahadat juga yang kemudian menjadi tolak ukur bagi nilai suatu amal atau gerakan. Ruh suatu gerakan akan terasa jika syahadatain benar-benar menjadi pondasi awal dari bangunan gerakan itu. Maksudnya adalah bahwa menjadikan firman Allah dan tuntunan Rasulnya sebagai penentu arah dari gerakan, sehingga ada semangat/ghirah yang benar-benar tumbuh karena Allah dan atas teladan  Rasul-Nya. Rumusnya tetap sama, jika baik syahadat dalam gerakan/harokah maka akan baik pula cara kerja dan hasil akhir dari kerja-kerja gerakan.

            Ada hal yang tidak kalah penting, bahwa ada cara pandang yang berbeda ketika syahadatain direalisasikan dalam gerakan. Karena ingat bahwa, cara pandanglah yang kemudian sangat berpengaruh besar terhadap sikap kita dalam gerakan, bagaimana gerakan kita dan apa tujuan suatu gerakan. Banyak gerakan yang kemudian terasa gersang dan miskin ruh perjuangan, sebab tidak ada nilai dari makna syahadatain yang dibawa dan diperjuangkan. Maka syahadatain ini akan mampu memberikan cara pandang terhadap suatu gerakan, yaitu bahwa gerakan tidak boleh lepas dari semangat dakwah, yakni amar ma’ruf nahi munkar. Apapun yang menjadi bentuk gerakannya, sejatinya tidak lain untuk berdakwah. Dan dengan cara pandang seperti ini, maka ada dimensi akhirat yang selalu dibawa, yaitu bahwa semua perjuangan atau hidup ini ada akhirnya. Yang mana pada akhir dari hidup ini, ketika semua telah mati dan dibangkitkan lagi, semua perbuatan, perjuangan dan gerakan kita akan dipertanggung jawabkan di pengadilan akhirat. Sehingga dengan syahadatain ini, gerakan benar-benar berusaha berjalan pada rel yang benar dan punya semangat dakwah serta ruh yang menjadikan gerakan itu terasa lebih segar.

Wallahua’lam bis shawab



Kekuatan Dakwah

Ada satu pelajaran yang begitu berharga, tatkala kita membuka kembali lembaran sejarah Islam ke masa dimana bangunan dakwah Islam masih begitu dini. Tatkala Rasulullah mendapat wahyu pertama sebagai awal “pelantikan”nya menjadi seorang utusan Allah, kemudian hari-hari berikutnya ketika Beliau harus mendakwahkan amanah besar -yang Allah letakkan di pundaknya- secara sembunyi-sembunyi. Dan musim pun berganti, dakwah Beliau mulai nampak ke permukaan; terang-terangan (tanpa melakukan peperangan), ini adalah tahap kedua dari dakwah Nabi. Kemudian tahap terang-terangan dengan memerangi orang-orang yang menyerang dan memulai peperangan terhadap Islam, tahap berikutnya adalah terang-terangan dengan memerangi setiap orang yang mengahalangi dakwah Islam dan anti agama atau penyembah berhala. Demikianlah dakwah itu mulai menjalar ke seantero Makkah, ke madinah dan terus melebarkan sayapnya ke negeri-negeri sekitar, dakwah Islam tumbuh sumbur bagai jamur yang tumbuh di musim hujan. 

Aral dan rintangan datang silih berganti, bak ombak yang selalu tak bosan menghampiri pantai. Entah itu berupa tantangan dari internal Islam sendiri, maupun yang datang dari luar Islam. Tapi dakwah ketika itu tidaklah padam akan semua yang menghantamnya, tiada goyah hanya karena aral dan rintangan yang datang silih berganti, justru dakwah itu terlihat begitu indah, perkasa dan semakin membuat orang terpana, semakin banyak masyarakat kala itu malah jatuh hati dengan dakwah islam. Pengikut Nabi pun terus dan terus bertambah. Dakwah beliau kian eksis dan terus mengalir melintasi waktu-waktu bahkan melintasi tempat. Begitu menakjubkan. 

Mengapa “gerakan” dakwah Nabi begitu hebat hingga mampu menepis gejolak yang terjadi dalam internal Islam dan bahkan sanggup melibas aral dan rintangan yang selalu menghiasi perjalanannya?. Nabi -selain karna bimbingan wahyu- tentu tak bekerja sendiri, dia punya “kader-kader” yang sangat militan dan loyal, dia punya patner-patner kerja yang luar biasa yang telah Beliau tarbiah dengan begitu baik. “kader-kader” atau patner-patner kerja Nabi tentu sangat beragam, mereka dari kabilah yang tidak selalu sama, mereka dari suku yang tidak pula selalu sama bahkan mereka dari latarbelakang pribadi, sosial dan ekonomi yang juga tidak selalu sama. Lalu bagaimana Rasulullah menyikapi itu sehingga mereka menjadi satu kesatuan yang luar biasa?, apakah kemudian Rasulullah “memaksakan” untuk menyeragamkan mereka atas nama dakwah?.  


Bukan penyeragaman tapi penyelarasan


Perbedaan itu adalah fitrah, dan tentu Rasulullah sebagai “penikmat” bimbingan wahyu yang pertama adalah orang yang paling faham akan hal itu. Karna dengan adanya perbedaan, disitulah akan mucul keseimbangan. Rasulullah tidak memilih sikap untuk menyeragamkan “kader-kader”nya, karna Beliau tahu bahwa itu bukan keputusan sikap yang tepat. Sikap yang Rasulullah pilih adalah semangat menyelaraskan “kader-kader”nya, Beliau ingin “kader-kader”nya menjadi warna-warna yang akan membentuk pelangi yang indah, pelangi yang akan menghiasi “gerakan” dakwahnya. Bayangkan jika semangat “penyeragaman” yang Rasulullah pilih, maka percayalah bahwa tak akan tercipta pelangi. Karna pelangi bukan berbentuk atau terbentuk dari satu warna, tapi ada multi warna yang membangunnya. Betapa tidak sedap dipandang mata andai saja pelangi hanya berwarna merah misalnya, atau berwarna kuning misalnya, atau putih saja misalnya, atau mono warna lainnya. Hilanglah keindahannya, tiada lagi pesona dan daya tariknya.


Begitulah “gerakan dakwah” Rasulullah, warna-warni “kader-kader”nya adalah instrumen-instrumen yang oleh Rasulullah diselaraskan jalannya, diselaraskan tujuannya, diselaraskan fikrohnya, diselaraskan visi dan orientasi dakwahnya untuk membentuk sebuah kumpulan warna yang berbaris rapih nan indah; pelangi. Pelangi yang dibingkai dengan syahadat dan semangat dakwah yang luar biasa dan begitu mempesona. Para sahabat Rasulullah adalah pribadi-pribadi menarik yang penuh warna, karakter mereka yang berbeda-beda, dari yang lemah lembut, pemalu, periang, biasa-biasa saja dan sampai yang paling galak, begitu beragam. Namun Rasulullah datang tidak untuk menghapus karakter-karakter khas para “kader-kader”nya atau umat manusia umumnya, selama itu tidak bertentangan dengan aqidah yang dibawa oleh Beliau. Rasulullah tidak memaksakan agar semua sahabatnya menjadi orang-orang yang low profil misalnya, atau menjadi pribadi-pribadi yang lunak, lemah lembut, menjadi pendiam, atau menjadi pribadi-pribadi yang kasar dan keras. Tidak ada penyeragaman semacam itu.

Kita bisa melihat salah satu contoh dari sahabat-sahabat Rasulullah; Abu Bakar dan Umar bin Khattab, dua sosok sahabat yang begitu kontras. Abu bakar adalah sosok pribadi yang lemah lembut dan sikapnya yang begitu tenang, sedangkan Umar bin Khattab adalah seorang sahabat yang keras dan tegas. Mereka berdua sama-sama hidup bersama Rasulullah dan berdiri teguh untuk berjuang bersama Rasulullah. Namun Rasulullah tidak pernah merasa risih dengan kedua pribadi yang berbeda itu. Kalaupun terjadi permasalahan, mereka dengan segera dapat saling memahami dan tetap dalam barisan yang kokoh, hingga hari-hari mereka di lingkupi ukhwah yang kokoh. 

Perbedaan adalah sebuah kemestian, manusia sejak dilahirkan telah membawa perbedaan-perbedaan, termasuk juga karakter (walau memang karakter juga dapat dibentuk oleh lingkungan dimana kita beradaptasi). Perbedaan-perbedaan itulah yang ketika berkumpul dalam sebuah jama’ah yang dibingkai keimanan dan ketaatan, maka akan membentuk sebuah bangunan kekuatan yang kokoh. Rasulullah sangat faham akan keadaan sahabat-sahabatnya yang begitu beragam karakternya serta asal kabilahnya dan itu tidak dipandang sebagai masalah oleh Beliau. Karna sekali lagi, tentu Rasulullah sangat faham akan berbedaan itu. Warna-warni karakter khas sahabat-sahabatnya itu, justru menjadi kekuatan tersendiri bagi dakwah Rasulullah. Inilah salah satu sebab mengapa “pergerakan” Rasulullah begitu kuat dalam menepis duri-duri dakwah yang tumbuh dalam tubuh pergerakannya maupun yang datang dari luar “pergerakan dakwahnya”, sehingga dakwah Islam cepat tersebar dan sangat kokoh ketika itu.

Bagaimana dengan organisasi dakwah?
Tak dapat kita pungkiri bahwa organisasi-organisasi dakwah seperti LDK, KAMMI dan yang lainnya adalah dibangun atau diisi oleh warna-warna yang tidak selalu sama. Ada multi warna disana, entah warna yang dimaksud adalah suku, asal daerah, latarbelakang ekonomi, sosial, karakter dan juga pengalaman. Sehingga memang membutuhkan strategi yang tepat dalam menyikapi perbedaan itu, agar apa yang menjadi cita-cita besar pergerakan/organisasi tidak kemudian menjadi  sesuatu yang terlampau mustahil untuk diwujudkan hanya karena tidak sanggup mengurus strategi dan menentukan sikap. 

Maka menjadi sebuah kemestian untuk kita -para aktivis dakwah - untuk membuka kembali lembaran-lembaran sejarah dakwah Rasulullah. Karna Rasulullah adalah da’i dan “aktivis” yang paling sukses mengatur “pergerakannya”. Dia mempunya strategi yang jitu dalam meng-handle beraneka ragam warna kader-kadernya, dan itu penting untuk kita tiru. (saya mengkhususkan warna ini sebagai karakter, bukan warna dalam artian suku, daerah dan yang lainnya).

Kita semestinya harus sadar dan mengakui bahwa warna-warni dalam organisasi dakwah adalah suatu keniscayaan, karna mau tidak mau itu pasti ada. Hanya terkadang kita tidak “ikhlas” menerima kenyataan itu, karna ketidak-“ikhlasan” itu membuat kesangsian dalam diri kita dan kemudian dengan tergesa-gesa menghakimi dan kemudian merasa kecewa dengan organisasi dakwah yang kita masuki. Maka dengan sendirinya kita malah merusak warna-warna itu sehingga pelangi pun tak akan terbentuk, kita membuat kesuraman bukan keindahan. 

Kita tak boleh memaksakan kader-kader dalam organisasi dakwah untuk menjadi pribadi/karakter yang sesuai dengan standar yang kita buat sendiri dan sesuai dengan apa yang ideal menurut kita sendiri. Organisasi dakwah mestinya menjadi wadah yang disana keindahan dakwah itu memancarkan sinarnya, sinar dari warna-warna yang beragam. Kita tak boleh “kecewa” karna ternyata di organisasi dakwah yang kita masuki bukan hanya kumpulan orang-orang yang kalem, lemah lembut, pendiam, yang ketika ketemu lawan jenis kepalanya menunduk, atau standar ideal lainnya yang kita paksakan adanya. Biarkan kader-kader itu mewarnai sebuah gerakan/organisasi dakwah dengan karakter-karakter khas mereka, selama itu tidak bertentangan dengan nilai-nilai dakwah/islam dan juga tidak menyalahi tercapainya cita-cita bersama. Tak boleh ada penyeragaman.

Biarkan sosok lemah lembut layaknya Abu bakar itu ada di organisasi dakwah, biarkan sosok keras dan tegas layaknya Umar bin Khattab itu ada di organisasi dakwah, atau karakter yang pemalu, pemurah dan penuh kelembutan layaknya Usman bin affan, atau sosok yang selalu ceria seperti Ali bin Abi thalib, atau sosok yang selalu rapi dan sistematis layaknya ‘Abu Ubadah, atau sosok yang congkak/sombong, namun sombong yang diletakkan ketika menghadapi musuh layaknya Abu Dujanah, atau sosok seperti Khalid yang hanya mampu menghafal sedikit ayat, namun militansinya sangat luar biasa ketika berdakwah dan berperang bersama Rasulullah, atau seperti Khuzaifah sang intelijen, yang berbaur bersama orang-orang kafir, setia dilingkungan orang kafir, namun hati dan pikirannya adalah kemenangan dakwah islam, atau sosok yang low profil layaknya Sa’id ibnu Zaid dan sederet karakter-karakter para kader-kader Rasulullah lainnya. Biarkan berbagai macam karakter-karakter itu bersatu di organisasi dakwah, biarkan mereka saling melengkapi dan berkontribusi sesuai karakter mereka, dan sekali lagi selama itu tak menyalahi nilai-nilai Islam dan cita-cita besar pergerakan.

Kita jangan mengeluh atau kecewa dengan kenyataan yang ada, tak boleh kita menghujat warna-warna yang berserakan didalam tubuh jama’ah, karna ketika kenyataan itu tak pernah menjadi seperti apa yang kita inginkan, maka klimaksnya adalah kita merasa tak sejalan dan keluar dari jama’ah/organisasi dakwah. Harus diingat bahwa kita di dalam organisasi dakwah bukan sebagai pembeli di pasar, yang datang melihat-lihat dagangan, menawarnya dan ketika tak sesuai selera kitapun memutuskan untuk pergi ke lapak-lapak berikutnya untuk melakukan hal yang sama seperti pada lapak sebelumnya. Kita juga bukan juri masakan yang hanya mencicipi masakan, jika tak sesuai lidah kita, kita komentar sana-sini dan ketika pada makanan yang sesuai dengan lidah kita, kitapun betah melahap makanan itu.

Kita di organisasi dakwah bukan mencari tempat untuk senang-senang, kita di organisasi dakwah bukan untuk duduk manis menunggu makanan jatuh dari langit dan ada bidadari yang menyuapkan makanan itu ke mulut kita. Bukan...!!!. Di organisasi dakwah kita adalah penerus, pembaharu, desainer, dekorator dan juga penggerak dakwah. Meneruskan perjuangan pendahulu kita dan bukan sebagai penikmat, meluruskan kekeliruan pendahulu kita dan bukan malah latah, membuat strategi dakwah dan bukan meratapi medan dakwah, mengiasi gerakan dakwah dan bukan membuat kesuraman, ikut melakukan “serangan darat” dan bukan menjadi penonton setia. Di organisasi dakwah kita bukan mencari atau merubah karakter orang menjadi apa yang kita inginkan, di organisasi dakwah adalah bagaimana kita bersatu dalam barisan yang multikarakter, membuat warna-warna itu saling melengkapi dengan formasi yang indah dan kemudian bergerak melakukan kerja-kerja dakwah bersama-sama. Karna itulah yang akan membuat jama’ah/organisasi dakwah kuat. 

Ibarat sebuah istana, organisasi dakwah membutuhkan pondasi, maka biarkan warna-warna yang kokoh itu menjadi pondasinya. organisasi dakwah membutuhkan tiang, maka biarkan warna-warna yang tegas itu menjadi tiangnya. organisasi dakwah membutuhkan dinding, maka biarkan warna-warna yang cerah itu menjadi dindingnya. organisasi dakwah membutuhkan atap, maka biarkan warna-warna yang meneduhkan itu menjadi atapnya, biarkan warna-warna itu berada pada posisi mereka masing-masing. Itulah kekuatan dakwah. 
Warna-warni dakwah sejatinya adalah kekuatan, bukan suatu masalah...

Wallaahul-muwaffiq ila aqwamit-thariq wa huwal hadi ila sawa’is- sabil.
Wallahua’lam.

Friday, 19 June 2015

Keistimewaan Bulan Ramadhan

Bulan Ramadlan adalah bulan suci, mengandung makna dan keutamaan (fadlilah) bagi Ummat Islam dalam hubungannya dengan Allah dan sesama makhlukNya, dalam kehidupan diri pribadi dan masyarakat, dalam kehidupan jasmaniyah dan rohaniyah serta dalam kehidupan duniawi dan dan ukhrowi, karena Ummat Islam dalam bulan Ramadlan ini berkewajiban menjalankan ibadah puasa wajib.

Keistimewaan bulan Ramadlan ini antara lain,
1. Dalam bulan Ramadlan ini diturunkan Kitab suci Al-Qur’an, seperti dinyatakan dalam firman Allah dalam Surat Al Baqoroh ayat 185 yang artinya :
“Bulan Ramadlan itulah bulan yang didalam-nya diturunkan Al Qur’an untuk menjadi petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penje-lasan mengenai petunjuk itu dan perbedaan antara yang hak dan bathil.”

2. Pada bulan Ramadlan itu pula terjadinya malam “Lailatul Qodar”, malam yang penuh berkah dan lebih baik dari seribu bulan. Hal ini tertera dalam Firman Allah Surat Al Qodar ayat 1—5 yang artinya :
Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al Qur’an pada malam kemuliaan (Lailatul Qodar). Dan tahukah kamu apa malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun Malaikat, juga Malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk rneng-atur segala urusan. Malam itu penuh kesejahteraan sampai terbit fajar”.

3. Pada bulan Ramadlan syurga dibuka, neraka ditutup serta para syetan dibelenggu, seperti Sabda Nabi sebagai berikut yang artinya :
“Telah datang kepadamu bulan Ramadlan, bulan yang diberkatl. Tuhan memerintahkan kamu berpuasa di dalamnya. Di dalam bulan Ramadlan itu, dibuka kan pintu surga, dikuncikan segala pintu neraka dan dibelenggunya para syetan. Di dalamnya ada suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan.”

Adanya kelebihan amalan yang dilakukan pada bulan Ramadlan, seperti Sabda Nabi SAW sebagai berikut yang artinya :

“Diamnya orang puasa adalah tasbih (memuji Allah)
tidurnya orang puasa adalah ibadah, doanya orang puasa itu mustajab dan pahala amalnya orang puasa itu dilipat gandakan.”



sumber gambar: dakwatuna.com

Monday, 27 April 2015

Sabar Bukan Diam

Oleh: Sulaiman Tahir

Sering sekali kita melihat kebiasaan di masyarakat ketika mereka terkena musibah atau suatu masalah tertentu. Kata sabar selalu diucapkan untuk menenangkan dan menguatkan orang yang terkena musibah atau masalah. Sampai pada titik ini, kita akan berkesimpulan bahwa itu adalah perbuatan yang baik dan memang sudah seharusnya seperti itu, karna dalam Islam kita diajarkan untuk saling menguatkan, semua itu tidak lain karna sesama muslim adalah bersaudara dan orang-orang Islam adalah ibarat satu tubuh. Rasulullah pernah bersabda dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Nukman bin Basyir ra., bahwa: "Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling kasih, saling menyayang dan saling cinta adalah seperti sebuah tubuh, jika salah satu anggotanya merasa sakit, maka anggota-anggota tubuh yang lain ikut merasakan sulit tidur dan demam." (Shahih Muslim)

Dalam hadis lain juga dijelaskan bahwa sesama muslim adalah ibarat sebuah bangunan yang saling menguatkan, yaitu Hadis yang diriwayat Abu Musa ra. bahwa Rasulullah bersabda: "seorang mukmin terhadap mukmin yang lain adalah seperti sebuah bangunan di mana bagiannya saling menguatkan bagian yang lain." (Shahih Muslim). Perbuatan menguatkan saudara sesama muslim ketika mereka terkena musibah atau masalah adalah merupakan bentuk dari rasa saling mencintai sesama muslim, sebab konsekuensi logis bagi seorang yang beriman adalah mencintai saudara sesama muslim, ini sebagaimana sebuah hadis Rasulullah: "Tidak akan masuk syurga hingga kalian beriman, dan tidak akan beriman sampai kalian saling cinta mencintai...."

Namun yang menjadi permasalahannya adalah tentu bukan perbuatan menguatkan saudara yang terkena musibah atau masalah, tetapi masalahnya adalah pada persepsi mereka yang terkena musibah atau masalah tentang makna sabar itu. Seringkali sabar justru dipahami sebagai sebuah bentuk pendiaman diri ketika terkena musibah, masalah atau ketika disakiti. Sehingga ketika terkena musibah mereka diam saja dan justru menyeret diri untuk terus berada pada zona musibah itu dengan alasan sabar. Mereka sering sekali menjadikan diri terus-terusan terbelenggu masalah dan berharap ada solusi yang akan jatuh dari langit, dengan alasan sabar. Mereka rela untuk terus-terusan disakiti tanpa melawan yang menyakiti mereka, denga alasan sabar. Begitulah keadaan itu terus berjalan dan mereka semakin kolot saja dalam memahami sabar, sabar bukan lagi dijadikan solusi tetapi malah menjadi kambing hitam.

Jika kita membaca dalam al-Qur'an, tidak sedikit kita temukan kata sabar. Jika ditelusuri secara keseluruhan, terdapat 103 kali disebut dalam al-Qur'an, kata-kata yang menggunakan kata dasar sabar; baik berbentuk isim maupun fi'ilnya. Hal ini menunjukkan betapa kesabaran menjadi perhatian tersendiri, yang Allah tekankan kepada hamba-hamba- Nya. 

Saya ingin menegaskan bahwa sabar itu bukan  tentang diamnya kita ketika mendapat musibah, tekanan, kesempitan, kekalahan ataupun hal-hal lain yang  kata "sabar" sering sekali dipakai untuk meresponnya. Sabar itu adalah bergerak dan bukan diam, sabar itu adalah maju bukan stagnan, sabar itu adalah melawan dan bukan pasrah, sabar itu adalah melepaskan diri bukan membiarkan diri terbelenggu.

Pemahaman tentang makna sabar ini lah yang tidak semua orang mengerti, sehingga tidak sedikit orang yang terus-terusan saja dalam kesempitan, terus-terusan saja disakiti dan terus-terusan saja hanya diam di tempat tanpa berbuat apa-apa. Padahal Rasulullah mengajarkan kepada kita agar jangan sampai kita terus-terusan berada pada dua kondisi yang sama, kita harus mampu keluar dan bahkan menjauhi kondisi itu. "Seorang Mukmin tidak boleh jatuh pada dua lubang yang sama" (HR. Muslim). 

Sabar adalah bagaimana kemudian kita mampu bergerak walau kita dalam kesempitan, kita mampu melawan walau kita kecil dan terdesak, sabar itu adalah bagaimana kita mengusahakan  hak dan kewajiban kita dengan sebaik-baiknya dan semaksimal-maksimalnya disaat kita seperti telah kalah dan seakan kata bangkitpun tak bisa kita sebutkan.

Dengarlah bahwa, tidak ada satu orang pun yang mampu melakukan hal berat kecuali dia adalah orang yang mampu bersabar. Karna sabar adalah alasan mengapa kita bisa menang !


Ads 970x90