Fetching data...

Tuesday, 14 April 2020

Menyesali Perpisahan

Tidak terbilang banyaknya orang yang akhirnya rapuh lalu tersungkur tak berdaya, hanya karena sebuah perpisahan. Why? tidak salah lagi, itu bukan karena betapa perihnya sakit akibat luka yang tercipta dari perpisahan. Tetapi karena sangat mungkin mereka kurang bersyukur atas pertemuan yang pernah mereka dapati.

Mengapa harus rapuh karena perpisahan? bukan kah perjumpaan tak pernah menjanjikan kekekalan? Ketika kita siap atas perjumpaan (walau sebenarnya perjumpaan tidak pernah mau tahu kesiapan kita), kita pun harus rela atas perpisahan. Maka bersyukurlah dengan sepenuh hati, karena pernah mendapat kesempatan atas suatu perjumpaan. Sehingga ketika tiba perpisahan, rasa syukur atas perjumpaan di masa lalu adalah bentuk keikhlasan terhadap perpisahan yang terjadi.

Ini seperti orang yang merasa kehilangan atas sesuatu, karena dia pernah merasa memiliki atas sesuatu itu. Maka baiknya, jangan memandang dari sisi kehilangan, tetapi lihatlah bahwa kita pernah diberi kesempatan untuk memiliki, di saat tidak semua orang mendapatkan kesempatan itu. Bersyukurlah karena pernah memiliki, walau akhirnya harus kehilangan. 

Jika fokus kita hanya pada apa yang pergi dari kita, sudah pasti kerapuhan tidak mungkin terelakan. Akhirnya bangkit kembali menjadi sesuatau yang teramat sulit bagi kita. Harusnya fokuslah pada kesempatan yang sempat kita miliki. Tidak semua perjumpaan yang kita alami, juga dialami oleh orang lain. Tidak semua yang pernah kita miliki, juga dimiliki oleh orang lain. Maka bersyukurlah pada hal-hal itu. Agar kita lebih lapang dan ikhlas atas perpisahan dan kehilangan. Bukankah dunia ini telah mengajarkan kepada kita, bahwa memang tak pernah ada yang abadi, semua akan pergi, semua akan berakhir, semua akan hancur, semua akan tergantikan, semua punya awal dan akhir.

Ketika mata hari muncul di ufuk timur, lalu perlahan meninggi, hingga persis vertikal di atas kepala kita, tapi akhirnya dia tegelincir, lalu tenggelam di langit barat. Atau bintang yang menabur menambah indah langit biru kala mata hari telah hilang dari peraduannya, malam pekat menjadi indah. Tetapi ketika matahari kembali muncul di langit timur, bintang gemintang itu pun sirna. Atau api yang membakar kayu, hingga kayu memerah bara, membumbung tinggi asap putih. Tetapi ketika api padam, tinggallah bara merah itu dengan asap-asap tipis, namun tidak lama setelahnya, asap menghilang dan bara tak lagi memerah, meninggalkan hitam, sebagai petanda api pernah membakar disitu. Atau awan mendung, yang membentur-bentur satu sama lain, menciptakan gemuruh, memercikkan petir, lalu membasah kuyupkan bumi karena muntahan airnya. Namun akhinya sirna, ketika angin berhasil mendorong awan ke atas belahan bumi yang lain, hanya menyisakan lembab di atas tanah bumi.

Apakah malam pernah mengutuk siang? atau sebaliknya siang mengutuk malam? pernahkah bintang protes kala sang merah saga sekonyong-konyong mengusir mereka dari langit biru? pernahkah bara mencela api karena pergi menyisakan hitam padanya, padahal bara pernah gagah memerah karena api pernah hinggapinya? atau pernahkah hujan menghardik awan, karena berhenti melepasnya ke bumi saat dia tengah asik bercengkerama ria dengan tanah atau dedaunan dan atap rumah manusia? atau pernahkah awan memarahi angin, karena mengusirnya saat tengah melepaskan hujan ke bumi? Mereka tak serapuh manusia-manusia yang tak pernah bersyukur atas perjumpaan dan kesempatan memiliki. Mungkin saja mereka bahkan tertawa riang, karena pernah diberi kesempatan menunaikan tugasnya masing-masing, hingga lupa bahwa baru saja mereka dipaksa berhenti menunaikan tugasnya. Rupanya mereka tengah mendidik kita, bahwa bgitulah siklus hidup ini, semua harus berganti, semua harus berputar, yang datang harus kembali, yang dekat akan menjauh, yang terpegang akan terlepas, tak ada yang akan selamanya.

Memang perih saat perjumpaan harus berakhir karena perpisahan, memang sakit saat tak lagi memiliki karena harus kehilangan. Jika pun harus terisak, terisaklah hanya sekedar untuk mengikhlaskan. Bangkit lagi, tersenyum lagi, begini lah hidup ini, apalagi dunia hanya sandiwara, tak perlu mengiranya sebagai segalanya.

Tuesday, 5 January 2016

Sya'ir yang Menghebohkan Syi'ah

Dialah  Ahmad Nu’aimi, seorang penya'ir syi'ah ternama Irak, dia menciptakan sebuah sya'ir yang menghebohkan bangsa iran dan orang-orang syi'ah... sya'ir itu berjudul:  
 “KITA BANGSA YANG TAK PUNYA MALU”
sya'ir ini tidak hanya mengajak kita mengingat kembali masa lalu dan melihat sepak terjang syi'ah di masa-masa ini, sya'ir ini juga sebagai tamparan keras untuk syi'ah laknatullah yang tidak punya malu

Friday, 19 June 2015

Orang Atheis Tidak Belajar Lagu "Pelangi:

Sempat ngoceh dgn seseorg di dunia lain (dunia maya) | Ocehan orang itu serem-serem, buat bulu mataku berdiri 
grin emotikon
 | semua berawal ketika saya ngepost kalimat yg menurut dia "is so delusional " | Hawa panas nampak jelas hiasi pikiran dan tubuhnya, itu terlihat dari ocehan2nya 
grin emotikon
 | Saya cuma "sirami" dia dan ocehan2nya dengan ocehan yg dingin2 saya, ya dinginnya kayak ES Teh lah kurang lebih 
pacman emotikon
| dari awal saya menyadari ocehan2nya memang ada "kelainan", tidak wajar dan tidak sebagaimana org2 pada biasanya 
confused emotikon
 (MulaiSerius.com) | Ohh akhinya saya baru dong (ngerti) dirinya ketika dia mengakui siapa dia 
squint emotikon
 | kata dia: "I'm an atheist" | Wah pucuk dicinta ulam pun tiba (hebohku dalam hati 
grin emotikon
 ) | Rupanya saya sedang ngoceh ria dgn se2org yang katanya dia Atheis | .... lama2 saya mulai mearasa aneh dan akhirnya nyeletuk "Kok ada org atheis ngaku dirinya atheis" (pura2 gk tau 
grin emotikon
 ) | Padahal semestinya org atheis jangn ngaku kalo dia atheis | ini bkn tak beralasan | ini adl masalah sejarah dan masalah panjang tdknya akal | ini berhubungn dengan sejarah, sebab membuktikan bahwa org atheis (khususnya Indonesia) tdk pernah atau mungkin tdk menghayati lagu "PELANGI" saat masih jadi bocah ingusan yang belum atau sedang duduk di bangku TK 
grin emotikon
 | siapapun juga tahu (Mencoba berhusnuzon 
smile emotikon
 ) bahwa lagu "PELANGI" adalah lagu tentang TUHAN | Lagu "PELANGI" adalah lagu cerdas dan kreatif yg mengajarkan pada anak kecil bahwa TUHAN ITU ADA dan DIA adalah PENCIPTA | Ini jelas terlihat pada kalimat terakhir lagu "PELANGI" : "pelangi-pelangi CIPTAAN TUHAN !" | Betapa ruginya org atheis tak pernah dapat lagu itu di masa kecilnya | maka seharusnya org atheis jangn mengaku dia atheis | sebab dia seolah2 memamerkan bahwa masa kecilnya tak pernah disuguhi lagu khas anak kecil: "PELANGI" | Disamping itu juga, ini membuktikan orang atheis tdk pernah belajar teori filsafatnya Aristoteles, yaitu "Causalitas" | Sebuah teori yg mengajarkan adanya CAUSA PRIMA | Yaitu inti atau sebab utama mengapa ada akibat-akibat | Nah inilah yg ada sangkut pautnya dengan panjang tidaknya akal | orang atheis adl mereka yang -sebagaimana saya baca dan dengar perkataan orang2 cerdas- pendek akalnya (dalam hal ini) | sebab mereka bahkan tak sanggup berfikir bahwa tdk mungkin alam raya dan semua yg dikandungnya ini, yang begitu canggih dan is wonderfull and unimaginable adalah hal yg tiba2 saja ada tanpa ada yg buat | yg mereka tau adalah ini semua cuma "kerjaannya" gas yg dalam waktu panjang membentuk bola gas yg entah bagaimana caranya (maklum saya orang hukum bukan org fisika atau sejenisnya 
squint emotikon
 ) meledak sehingga membentuklah galaksi-galaksi, tata surya dan planet2, yg dikenal dgn "BIG BANG" | atau silahkan tanyakan pada mereka bahwa, jika mereka berada di hutan belantara yg jauh dari hiruk pikuk dunia desa maupun kota, mereka menemukan sebuah handphone canggih, atau handphone Nokia 105 (seperti punya saya 
grin emotikon
 ) | Kira2 apa yg mereka pikirkan ? | saya yakin akan heboh dalam pikiran mereka: " 'SIAPA' yang tega menaruh HP ini sendirian disini" | hal ini karena mereka sadar tdk mungkin tiba2 saja HP NOKIA 105 ada di hutan belantara itu | Pasti ada yg menaruhnya disana ! | Nah, untuk hal yg kecil begitu, hanya sebatang HP NOKIA 105 yg ada d hutan belantara saja mereka akui ada yg sengaja atau tidak sengaja menaruhnya/menjatuhkannya/meninggalkannya | Masa iya alam raya yg teramat sangat canggih ini mereka anggap tiba2 saja ada tanpa ada satu ZAT MAHA HEBAT yang buat | sekelas anak SD pun akan merasa itu hal yg menggelikan | Masa iya akal kita tidak sampai disitu | saya akhirnya lagi-lagi nyeletuk: "Kasihan sekali orang atheis, mereka tdk diajarkan dan tdk menikmati lagu "PELANGI" kala masa bocahnya !, dan sungguh menyedihkannya orang atheis, mereka tak sanggup membenarkn dgn akal bahwa pasti segala sesuatu yanga ad di langit dan bumi, pasti ada yg ciptakan" | tapi ya sudahlah, itu ‪#‎BukanUrusanSaya‬ (pura2 sok "jadi" presiden" ) | toh orang yg berpuasa harus hormati yg tidak puasa (pura2 sok "jadi MENAG" | dan saya pun tidak boleh "usili" kesenangan mereka dan hura2 mereka (pura2 sok "jadi kapolri") | Yahhh saya pun tak berhak mensyi'arkan keyakinan saya dgn lantunan ayat suci kitab saya dgn suara nyaring, apalgi mengusik waktu tidur orang-orang dengan panggilan untuk bangun mengisi perut menjelang subuh agar kuat berpuasa (pura2 sok "jadi Wapres" | piiissss untuk semua 
wink emotikon




~SEKIAN KICAUAN INI SAYA CUKUPKAN SAJA!~

sumber gambar: Frinellyrini.wordpress.com

Wednesday, 17 June 2015

Bukan Bang Toyib!

"Pulang kampung" adalah hal yang begitu dirindukan oleh sementara para pengembara lokal maupun lintas negara... "pulang kampung" menjadi tradisi yang amat seing terjadi ketika momentum puasa atau lebaran, dan jika kita melihat di televisi, maka ada ribuan atau mungkin jutaan orang yang melakukan aksi pulang kampung atau bahasa kerennya "mudik" ketika bulan ramadhan atau beberapa hari menjelang lebaran bahkan beberapa hari pasca lebaran.

Ads 970x90