Hal yang sangat umum terjadi dalam lingkungan kita berorganisasi adalah sering kali menjadikan senior sebagai patokan semangat kita; jika senior baik dan terus berada pada alur yang semestinya, maka semangat kita untuk komitmen pada organisasi pun akan ikut bertambah, atau minimal stabil. Demikian juga sebaliknya, jika tiba-tiba sang senior melemah, futur dan akhirnya keluar pada alur kebiasan yang semestinya, semangat kita pun akhirnya turun drastis dan kekecewaan tak beralasan muncul tidak hanya terhadap si senior, namun merembet juga kepada organisasi itu sendiri. Padahal apalah persamaan antara sang senior dan organisasi?, ini dua hal yang berbeda. Subjek dan objek tidak akan mungkin pernah sama; jika subjek adalah penggerak maka objek adalah hal yang digerakkan. Itu artinya salahnya sebuah gerakan adalah karena penggerak, demikian halnya jika penggerak salah maka tidak mungkin yang disalahkan adalah yang digerakkan.
Namun hal seremeh itu tidak semua bisa memahaminya dengan mulus, butuh proses yang baik untuk bisa menerima kenyataan semacam itu. Organisasi tidak boleh bergantung pada figuritas, karena jika itu terjadi maka organisasi tidak akan berumur panjang atau minimal tidak akan menjadi sehat. Sebab jika sang figur rapuh, maka organisasi pun akan ikut rapuh. Jika sang figur roboh maka demikian pula organisasi, pasti akan roboh. Itulah yang kemudian menjadi semangat bagi beberapa organisasi dalam mengupayakan sebaik mungkin untuk tidak ada sekat antara senior dan junior, tidak boleh ada patronisme, agar antara senior dan junior sama-sama boleh dikritik atau diberi masukan. Walau tetap sikap hormat dan taat adalah etika yang tidak boleh hilang dalam kehidupan berorganisasi.
Ada sebuah cerita tentang kekecewaan seorang junior kepada senior, yang akhinya juga merembet pada kekecewaan sang junior terhadap organisasi. Cerita ini tentang seseorang yang telah dianggap senior atau sesepuh dalam sebuah organisasi, dia sangat disenangi dan selalu disanjung para junior maupun oleh sesama sesepuh. Sang senior ini tidak hanya menjadi seorang kakak, namun bahkan menjadi guru, penasehat dan penyemangat bagi yang lainnya. Benar-benar menjadi teladan dan contoh bagi yang lain. Namun siapa yang sangka, ternyata suatu ketika sang senior ini melakukan kesalahan yang dianggap tidak biasa dan sangat tidak mungkin akan dilakukan oleh orang seperti dia, yang telah dianggap senior di organisasinya. Semua menatap heran, tidak menyangka sang senior melakukan hal demikian itu, tapi toh memang demikianlah kenyataannya. Akhirnya muncul beberapa kubu penyikapan, ada yang saking percayanya pada senior, akhirnya membela buta. Ada yang bersikap tidak mau menghakimi, tidak berani menyalahkan tetapi tidak berani juga membenarkan, dan ada yang akhirnya kecewa lalu menghujat hingga mengucili sang senior, bahkan memutuskan untuk keluar dari organisasi.
Padahal, pernah terjadi di zaman Rasulullah, dimana seseorang yang sangat baik di mata para sahabat yang lain, diakui kemampuannya, diakui kesetiaannya apalagi keimanannya; pun tak luput dari kelalaian yang dalam pandangan orang lain hal itu tidak biasa dan sangat tidak mungkin dilakukan oleh seorang sepertinya. Dialah Ka'ab bin Malik, seorang sahabat terbaik Rasulullah, yang pernah ketika itu lalai untuk ikut berperang bersama Rasulullah dalam perang tabuk. Ini adalah kesalahan yang tiadak biasa, sebab dilakukan oleh salah seorang sahabat terbaik, bahkan Ka'ab bin Malik harus menunggu selama 50 hari dan 50 malam untuk mendapatkan ampunan dari Allah kepadanya.
Maka sebenarnya hal ini biasa terjadi. Kesalahan besar yang itu dilakukan oleh orang terbaik yang diakui dalam organisasnya, dalam komunitasnya dan dalam masyarakatnya. Sehingga dari kenyataan semacam itu akhirnya mengingatkan kita bahwa, tak ada satu manusia pun yang luput dari kesalahan, tidak peduli siapa dan apa kedudukan orang itu. Hal ini akhirnya menyadarkan kita bahwa, orang yang kuat pun masih harus dikuatkan, orang yang setia pun masih harus terus ditempa, orang yang hebat pun masih harus untuk terus belajar, orang yang seperti apapun kecakapan, kemampuan, kedudukan dan kelebihan-kelebihannya, masih harus terus melalui proses penguatan, pembelajaran, saling menasehati, saling mengiatkan serta proses-proses lain yang membuktikan bahwa kita perlu untuk terus belajar dan menjaga keistiqomahan. Disinilah ruang nasehat akhirnya terbukti tidak untuk orang tertentu saja, tetapi setiap orang perlu dinasehati, sebagaimana setiap orang berhak untuk menasehati. Agar tidak sampai ada yang "dikultuskan" ataupun "mengkultuskan" oarang lain.
Demikianlah dinamika yang tidak mungkin kita nafikkan dalam berorganisasi; setiap orang wajar menjadi bersalah, seperti halnya setiap orang wajar untuk menjadi benar. Karena kita kuat sebab kita dinasehati, diingatkan dan terus didorong agar selalu memperbaiki diri. Sebab kesalahan tak pernah kenal tempat atau pelaku, dia bisa saja dilakukan oleh siapa saja; senior maupun junior dalam organisasi. Maka ruang nasehat harus terus terbuka kepada siapapu, sebab kesalahan pun berpeluang dilakukan oleh siapapun.
Yogyakarta,
30 April 2016
