1. ketika Rasulullah membawa risalah Islam di tengah masyarakat Arab telah ada deposit adat keiasaan masayarakat. Secara sosiologis dan antropilogis suatu kebiasaan yang terjadi dalam suatu masyarakat merupakan resultante dari nilai-nilai yang dikenal , dipahami, disikapi dan dilaksnakan masyarakat itu. Manakala Islam membawa nilai-nilai tertentu adat kebasaan tersebut ada yang dibiarkan berkembang dalam naungan Islam ada juga yang ditolak Islam karena bertentangan dengan nilai-nilai luur Islam. Berdasarkan temuan itu para ulama membegi adat itu kepada dua kategori besar yaitu adat shalihah da adat fasidah. Suatu adat dinyatakan shalihah tatkala syariat menyakan bahwa kebiasaan itu ada dalam naungannya.
-Lebih jauh Abu Ishaq asy-Syathibi menyatakan bahwa memperhatikan kenyataan yang terjadi di tengah masyarakat adah itu kepada al-‘adah al-‘aammah yaitu kebiasaan manusia yang di berbagai tempat dimanapun sampai apanpun sama seperti manakn, minum, rasa suka, dan berbagai hal yang melekat dalam diri mausia. Kedua adat yang berubah sesuati dengan peruahan tempat dan waktu, misalnya bentuk pakaian, rumah dan lain-lain.
Secara etimologis kata adat berasal dari kata al-‘aud atau al-mu’aawadah yang bermakna at-tikrar yaitu berulang-ulang atau kembali. Sedangkan secara terminolois adat dimankai oleh, antaa lain, Ibnu Nujaim sebagai: ‘ibarah ‘amma yastaqiru finnufuus minal umuur al-mutakarirah al-maqbulah ‘indathibaaissalimah’, yang berarti sebuah ungkapan tentang sesuatu yang trependam dalam diri dan merupakan perkara yang berulang-ulang yang dapat diterima oleh watak yang sehat.
Istilah lain yang biasa digunakan sebagai padanan kata adat adalah al’urf. ‘urf dimaknai sebagai ‘maa ta’aarafa ‘alayhinnaasu wa’taadahu fii aqwaalihim wa af’aalihim hataa shaara dzaalika muththaridan aw ghaaliban’ yang artinya apa yang dikenal oleh manusia an diulangi dalam bentuk ucapandan perbuatannya sehingga menjadi biasa dan berlaku umum.
Dari dua definisi di atas ada eberapa hal yang patut dugaris bawahi yaitu bahwa:
1. dalam adat ada unsur keberulangan sedangkan dalam ‘urf muncul unsur dikenal karena merupakan seustau yang baik yang bisda dilakukan oleh masyakarakat;
2. Karena sesuatu yang urf sehngga menjadi adat kebiasan itu merupakan suatu yang biasa dilakukan maka ia merupakan tata niai ynag berkmabnag dlam suatu masyarakat. Khususnya kata al-‘urf dengan dmeikian tekait dengan kata al-ma’ruf yang disebutkan dalam kata amar ma’ruf dan nahyi munkar.
Kata urf dan adat dijumpai dalam beberpa nash al-Quran sebagaiana terbaca dalam nash-nas berikut:
1. surat ali Imran ayat 104:
wal takun minkum ummatun yad-‘uuna ilalhoir wa ya’muruuna bil ma’ruf wayanhauna ‘anil munkar wa ulaika humul muflihuuna
2 al-A’raff aat 199:
Khudzil a’fwa wa’mur bil ‘urfi wa a’ridl ‘anil jahiliin
3. al-Baqarah 228:
walahunna mitsluladzii ‘alayhinna bil ma’ruufi
4. an-Nisa 19:
wa’aasiruuhuna bil-ma’ruufi
Sedangkan hadis Nabi saw yang menampung kata urf adalah:
مسند أحمد بن حنبل - (ج 1 / ص 379)
عن عبد الله بن مسعود قال : إن الله نظر في قلوب العباد فوجد قلب محمد صلى الله عليه و سلم خير قلوب العباد فاصطفاه لنفسه فابتعثه برسالته ثم نظر في قلوب العباد بعد قلب محمد فوجد قلوب أصحابه خير قلوب العباد فجعلهم وزراء نبيه يقاتلون على دينه فما رأى المسلمون حسنا فهو عند الله حسن وما رأوا سيئا فهو عند الله سيئ
Maa ra-ahul muslimunna hasanan fahuwa ‘indallahi hasananun
Inna fathimata bnta Hubaysyin sa alat an-nabiyya saw faqaalat inni astahidlu falaa aththuru afada’usholaata? Qaala Laa inna dzalika ‘irqun walakin da;siholaata qadral ayyami allatii kunti tahidiina fiihaa tsumagtasilii wahsllii.
Sebagaimna dijelaskan di atas adat yang diterima oleh syariat adalah adat yang sholihah seangkan yang fasidah ditolk syariat. Kriteria adat yang fasidah adalah:
1. yang bertentangan dengan ash al-Quran dan al-hadits. Seperti kebiasaan kumkum dalam taradsisi jawa, kebiasaan puasa terus menerus, kebiasaan jadi ditengah acara kematian, kebiaaan menanam kepala saat udlhiyah;
2. adat yang hanya menjadi kebiasaan segelintir orang dalam masyarakat;
Kaidah-kaidah turunan dari kaidah besar di atas.
1. isti’maalun nasi hujjatun yajibul ‘amalu biha
قواعد الفقه - (ج 1 / ص 57)
استعمال الناس حجة يجب العمل بها
2. innamaa tu’tabarul adatu idzathradat aw ghalabat;
الأشباه والنظائر لابن نجيم - (ج 1 / ص 94)
إنَّمَا تُعْتَبَرُ الْعَادَةُ إذَا اطَّرَدَتْ أَوْ غَلَبَتْ
3. al-‘ibratu lil ghalibi asy-syai’i laa binnadiri
أصول الفقه الذي لا يسع الفقيه جهله - (ج 1 / ص 30)
العبرة بالغالب لا بالنادر
4. al-ma’ruufu ‘urfan kalmasyrthi syar’an
الأشباه والنظائر لابن نجيم - (ج 1 / ص 99)
الْمَعْرُوفُ عُرْفًا كَالْمَشْرُوطِ شَرْعًا
5. al-ma’rfu indatujjari kalmasyruthi baynahum
6. at-ta’yiinu wrfi katta’yiini binasnahi
